Alhamdulillah akhirnya ada kesempatan juga nulis tentang ini..
jujur belum berani nulis dari kemarin-kemarin karena gda merasa masih dalam tahap perjuangan, dan Alhamdulillah tanggal 5 Maret 2015 kemarin secara tidak langsung mengatakan bahwa Ziran dan Zirin lulus S3 ASI. Dulu pas nifaa memang tidak lulus sampai S3, disapih pada saat usia 1 tahun 8 bulan karena keburu hamil ZiZi, dan setiap menyusui Nifaa terjadi kontraksi, sehingga proses menyusui harus di stop. Alhamdulillah tidak sulit untuk menyapih nifaa, karena dia anaknya ternyata pengertian sekali! memang butuh proses dan usaha, ketika dibilang Nifaa harus berhenti karena susunya untuk adik adik di dalam perut bundanya, Nifaa mengerti ^^ usaha lainnya adalah Nifaa tidur sama Yangtie Hema dulu selama beberapa hari, karena biasanya kan kalau tengah malam cari mimi bundanya. ^^
Ketika Flash back dulu sewaktu awal melahirkan Ziran Zirin, tentunya seperti ibu-ibu lainnya yang mengharapkan anak anak bisa full ASI dan ASIX alias asi eksklusive. Banyak sekali alasan mengapa ASI lebih baik, baik untuk anak maupun Ibunya, dan betapa ini bisa disebut sebagai ladang jihad seorang ibu. Ya, dibilang termasuk jihad karena ternyata memang butuh PERJUANGAN. Sewaktu baru banget lahiran, sudah siap breast pump, perlengkapan menyusui dan perlengkapan stock ASI lainnya, dan ternyata.. tidak seperti yang dikira! dulu sewaktu lahiran nifaa, ASI sudah full dan hasil pumping cukup banyak, tapi ternyata ini mah kempes pes pes. Rasanya sedih, panik, tapi harus berusaha menenangkan diri, karena emosi sangat berpengaruh kepada produksi dan pengeluaran ASI. Gda langsung mikir, Ya Alloh bagaimana ini, ada dua bayi yang harus disusui, sedangkan ini kempes begini. hiks. Istighfar.. istighfar.. semakin kita panik, ASI semakin tersendat. Gda tetap berusaha untuk menyusui langsung, dan rooming in dengan para bayi ketika baru lahir. Beberapa tamu menjenguk, dan paling sedih sewaktu ada yang bilang, "kenapa sedikit gitu ASInya? itu bayinya nelen air susu gak sih?" Ya Allah, semakin drop. Gda jadi mengambil pelajaran, lebih baik menyemangati dan mensupport seorang ibu yang baru saja melahirkan anaknya untuk bisa menyusui, daripada melontarkan pertanyaan yang sebetulnya efeknya membuat drop sang ibu. Seperti biasa, bayi baru lahir belum tau jam tidur dan jam bangun, sehingga sering bangun tengah malam sekitar 2-3 kali untuk melek dan menyusu. Ya Allah, ternyata begini ya dititipi anak kembar, gda bangun hampir tiap jam. Karena Ziran dan Zirin jam bangunnya velum bersamaan, kadang jam 11 zirin bangun, gda baru mulai tidur, tiba-tiba ziran bangun jam 12 dan pup. Jadi gda seperti tidur ayam, yang sejam sekali bangun. Awal-awal sering keliyengan tapi lama-lama terbiasa. Alhamdulillah ada suami, mama, dan mertua yang bergantian jaga piket untuk membantu ketika tengah malam pada bangun. Belum lagi tengah malam rasanya pusiiing sekalii, eh taunya kelaparan. Makan bisa 8 kali porsi nasi dalam sehari, saking kelaparan dan yang nyusu adalah 2 bayi laki-laki. hehe, Alasan! padahal betul. Jadi lebih gendut pas lahiran daripada pas hamil deh. Soalnya rasanya makan tuh enak enak banget! tapi memang dalam kamus hidup gda, hanya ada makanan enak dan enak sekali. Eyyaa Eyyaaa.
Hingga pada suatu hari, ternyata Ziran Zirin Bilirubinnya tinggi sehingga harus di inapkan di RS Hermina Pasteur, untuk di sinari supaya gak kuning. Kalau dulu pas nifaa, rasanya sedih sekali, baru melahirkan langsung harus berpisah dan berusahaa sekali untuk tetap ASIX tanpa diberi susu formula, jadi jam 1 malem, jam 3 subuh tetap mengantar ASI ke RS. Nah pas Ziran Zirin ini rasanya kewalahan sekali, pumping hasilnya belum banyak sedangkan kebutuhan bayi tinggi. Akhirnya dengan berat hati gda memutuskan untuk menyambung dengan susu formula. Sewaktu ZiZi di RS, gda bisa istirahat di malam harinya, sehingga ASI ketika pagi hari menjadi lebih banyak. Sewaktu ZiZi di RS ini gda sudah tidak terlampau panik, karena memang sudah pengalaman nifaa dulu, dan In sha Allah RS menjaga bayi bayi kita. Selain itu, jika kita panik, menangis dan ingat terus ke bayi kita, ternyata bayi kita merasakan hal yang sama sehingga terkadang menjadi rewel. Akhirnya setelah 3 hari, Ziran Zirin boleh pulang dari RS, walaupun sebetulnya bilirubinnya masih 10 (tidak terlalu rendah) tapi karena mau Akikahan ( Sunnahnya adalah hari ke-7 setelah lahir), jadi pulang deh. Rasanya kangen sekali! Hari demi hari kami lalui, ternyata memang kegiatan yang bisa di lakukan adalah hanya menyusui. Yak! Menyusui 2 bayi laki-laki yang sedang masa growth spurt. Masa growth spurt itu adalah masa dimana bayi seperti tidak kenyang-kenyang, dan membutuhkan asupan yang banyak sekaligus menstimulasi payudara kita agar memproduksi asi lebih banyak. konsepnya semakin banyak di stimulasi ( oleh bayi langsung ataupun di pompa) semakin banyak produksinya. Gda mulai kewalahan, bahkan makan dan mandi saja hampir tidak sempat jika tidak disela. Makan kadang disuapin, mana lapar terus kan. hehe. Memang dibutuhkan perjuangan melawan rasa lelah, emosi yang labil karena perubahan hormon pasca melahirkan, rasa bosan, rasa capek, ahh dan sebagainya deh. Hingga suatu hari, rasanya sudah sangat lelah dan lingkungan mendukung untuk, " udah teh ghaida, di sambung aja sama susu formula, gak apa apa kok, kan tetap dominan ASI". oh gitu ya? belum lagi ada seorang dokter yang mengatakan bahwa, " Ah anak kembar laki-laki mah jarang yang ASI eksklusive, hampir semuanya disambung kok! gak apa apa" Akhirnya ketika gda mulai sangat kewalahan, dan mindset gda sampai pada titik "Ah ini sepertinya asi sudah gak keluar lagi, sudah kempes, belum produksi" gda sambung dengan susu formula. Rasanya enak enak gak enak, kenapa? enaknya karena kita mempunyai waktu lebih banyak untuk istirahat ( apalagi sewaktu baru melahirkan gini, kondisi badan biasanya pegal-pegal, sakit-sakit, belum lagi lecet, perih dan masih pemulihan bekas lahiran). Tapi gak enak nya adalah entah mengapa hati kecil rasanya perih setiap mau memberi susu formula (mungkin beda-beda ya rasanya tiap ibu) rasanya seperti campuran antara merasa egois, merasa asi adalah asupan terbaik yang sudah Allah siapkan tapi kok di tambah, dan banyak pokoknya galau galau gichu. selama sekitar 3 minggu, gda sambung dengan susu formula, dan memang benar jadi terlena! Ya Allah, istighfar. Memang gda jadi terlena, ketika anak mau menyusu, dengan dalih butuh istirahat dan perih karena lecet, jadi diberi susu formula. tapi jujur saja selama itu hati tidak bahagia. Galau lagi deh, ini sampai kapan? masa selamanya disambung? jadi ketergantungan dengan peralatan susu atuh, botol steril dan lain sebagainya. Kan kalau asi langsung dari ibunya lebih praktis dan murah meriah. Hingga suatu hari gda searching dan bertanya di akun social media twitter, sebetulnya bagaimana menyusui bayi kembar itu? Alhamdulillah, Allah menuntun gda kepada suatu artikel yang isinya adalah "Allah menciptakan makhluk dengan rezekinya masing-masing, jadi kalau lahir bayi kembar mau itu 2 atau 3, berarti sebetulnya ada rezekinya". Dan terimakasih kepada teh Della istrinya Irfan Hakim, yang ternyata mempunyai anak kembar dan sangat menginspirasi. Teh Della pernah meninggalkan berkulkas-kulkas berisi botol ASI hasil pumping ketika hendak pergi haji. Saking tekad kuat ingin anak anak kembarnya tetap ASIX walaupun ditinggal 1bulan lebih untuk haji. Ma Sha Allah. Teh della bilang, bukan masalah ASI banyak atau sedikit, tapi bagaimana MANAGEMENT ASI itu sendiri. Dimulai dari Management emosi dan mindset, kalau harus selalu yakin dan optimis serta meminta kepada Allah kalau ASI kita mengalir deras untuk anak anak kita. enjoy, happy, dan ikhlas. Selain itu, sebisa mungkin 2 jam sekali pumping. Karena merasa susah sekali ketika anak-anak tidur, rasanya kan pengen tidur juga daripada pumping. Akhirnya gda pumping ketika yang satu menyusui dan yang satu tidur. Jadi kiri menyusui bayi, kanan dipumping. ternyata keluarnya lebih deras dan lebih banyak! Alhamdulillah. Awal melahirkan memang biasanya hasil pumping tidak banyak, tapi lama-lama kalau sering jadi banyak. Ingat banget dulu pumping pertama kali untuk 1 PD hanya 20 ml, tapi lama-lama sekali pumping 1 PD bisa 200 ml. Sampai heran sendiri ^^ dikarenakan ini dua bayi yang menyusu, rasanya kalau satu-satu habis waktu gda hanya untuk menyusui. Memang ternyata lebih baik tandem alias menyusu bersama. Dulu rasanya sulit dan tidak biasa, harus menggunakan bantal menyusui dengan posisi "football" ditambah 2 bantal kanan dan kiri, dan 2 bantal di belakang punggung agar tetap tegak namun tidak terlampau pegal. Karena mereka masih kecil sekali, jadi harus di topang oleh tangan gda. Lama kelamaan, karena dirasa pegal juga posisi begini, Akhirnya mencoba sambil tiduran dengan posisi di templokkan di kiri dan kanan (menggunakan guling di kiri dan kanan juga). Lama-lama terbiasa dan Alhamdulillah sangat mempersingkat waktu.
pada saat Ziran Zirin usia 1 bulan, gda bertekad untuk stop tambahan susu Formula. Awal-awal gda sempat mengganti susu formula dengan donor ASI dari seorang teman dan Adik ipar yang sama-sama baru melahirkan. Konsepnya adalah yang penting kita tau siapa yang mendonorkan, berbeda jenis kelamin, dan stop sufor. Gak banyak sih, tapi Alhamdulillah sangat terbantu, sehingga gda juga bisa sambil nyetok ASIP (asi perah). Sehingga sewaktu kelelahan, ZiZi bisa diberi ASIP. Ujiannya lagi adalah Nifaa ternyata cemburu beraaat. Karena mungkin dia terbiasa jadi pusat perhatian (cucu pertama dari kedua belah pihak orangtua), eh tiba-tiba ada adiknya 3 orang ( Ziran Zirin Arka *anaknya adik ipar* ) jadi memang nifaa cemburu berat. Inget banget suatu malam sekitar jam 12 malam, Nifaa nangiiiis, bundanya gak boleh menyusui adik-adiknya, stock ASIP sedikit dan Ziran Zirin masih proses adaptasi dengan botol dan dot sehingga tidak mau, Nifaa harus di gendong terus. Rasanya tidak tega, sedih, capek, kasian sama nifaa dan adik-adiknya. Istighfaaar aja terus. Akhirnya malah bundanya ikut nangis deh, jadi nangis berempat. Huhuhu. Saking capek dan semua nangis jerit-jerit pengen sama bundanya. Zirin nangisnya lamaa sekali, sampai khawatir karena bayi nangis malam-malam. Bener-bener sulit rasanya untuk tenang saat itu. Alhamdulillah Mama Ninih datang dan membacakan ayat-ayat Quran, dan ternyata Zirin berhenti nangis. Ternyata begini yaa dititipi 1 balita dan 2 bayi newborn. Masih di tekad kuat untuk ASI eksklusive, hari berganti hari tidak jauh dari menyusui. Sewaktu menyusui dan menyetok ASIP juga emosi harus di jaga, ternyata anak-anak lebih tenang ketika membaca asma Allah dan ayat-ayat Quran, ketimbang pada saat menyusui bundanya pegang gadget baik untuk urusan kerjaan,chatting yang kurang bermanfaat atau kepo kepo ( Astaghfirullah) tapi ya godaan ada aja. Kadang kalau lagi agak-agak gimanaaa gitu, nonton korean drama deh! hehe, makannya Nifa ZiZi kaya orang korea kann? dari hamil emang suka (ngarep dot com, hehe).
Hari berganti hari dan Alhamdulillah ZiZi menggendut seperti di pompa, dan berhasil lulus S1 ASI eksklusive ( sempet di tambah sufor tea yang 3 minggu pertama). Ya Allah ternyata bisaaaa.. Semua tergantung pertolongan Allah, manajemen emosi, menejemen hati, dan manajemen ASI. Rasanya selalu terharu kalau melihat anak-anak kita tumbuh berkembang, dan Alhamdulillah selama ASIX ini ZiZi jaraaang sekali sakit.
begitulah cerita singkat tapi panjang ini. Semoga ada manfaatnya. Part selanjutnya menyusul yaaa ^^ semangat buat teman-teman yang masih menyusui, ini adalah ladang JIHAD kita ^^
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Senin, 09 Maret 2015
Kamis, 12 Februari 2015
self reminder : mengingat kematian
“Orang mukmin yang paling utama adalah orang yang paling baik akhlaknya. Orang mukmin yang paling cerdas adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling bagus persiapannya untuk menghadapi kematian. Mereka semua adalah orang-orang cerdas." (HR Tirmidzi)
Innalillahi wainna ilaihi rojiun, beberapa hari yang lalu
ada seorang sodara meninggal dunia di usia yang cukup senja dan meninggal
karena penyakit jantung. Baru saja gda ngobrol sama Ustadzah di liqo, kalau
ternyata datang ke tempat orang meninggal hukumnya fardhu Kifayah. Ternyata
selain kita bersilaturahmi, in sha Allah selalu ada hikmah dan pelajaran yang
bisa kita dapatkan.
Ngobrol-ngobrol dengan keluarganya, tanpa sadar gda juga
ikut meneteskan airmata. Pasti rasanya berat banget untuk keluarga terutama
istrinya, ditinggalkan oleh orang yang bagi mereka seorang ayah yang penyayang,
humoris, rajin bersilaturahmi, dan banyak kebaikan lainnya. Istri beliau cerita
kalau betapa hatinya sangat sesak ketika,
“Ma.. Ma.. kadieu atuh (kesini dong), hingga ke 7 kali
menelepon“ kata suaminya ketika masih di dalam ruangan rumah sakit. Beliau
memang dirawat beberapa hari karena penyakit jantung.
“Sakedap bapa, bade nyeuseuh heula (mau nyuci baju dan bawa
salin dulu, karena kan berhari-hari di RS)”, kata istrinya.
Sewaktu istri beliau pergi, sang kakek ditunggui oleh anak
dan saudarinya. Walaupun dalam keadaan sakit, beliau selalu humoris, sampai-sampai
anaknya bilang,” bapa mah atuh nuju gering teh meuni seuseurian bae, siga nu
teu gering” (bapa sakit malah tertawa dan ngebodor terus, seperti yang tidak
sedang sakit). Kalau ada yang mengirim kue atau makanan selalu bilang,”sok
bagikeun iyeu emameun ka suster atawa nu sanes, da abdi mah teu tiasa nga
emam”. Betapa beliau selalu berbagi dalam keadaan apapun, baik itu sehat maupun
sakit. Dan selang beberapa waktu kemudian, sang kakek seperti gelisah dan
seperti kaget! Ternyata mungkin beliau sedang proses sakaratul maut. Akhirnya
saudari sang kakek menghubungi sang istri, mengabarkan bahwa sang kakek sudah
hampir tiba waktunya. Sang istri berjalan terseok seok karena memang terkena
penyakit yang menyerang kakinya, berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju
ruangan suaminya yang jaraknya tidaklah dekat, sambil hati begitu sesak,
mengetahui suaminya sedang berjuang menghadapi sakaratul maut, ingin menemani
tapi mau lari gak bisa. Ya Allah membayangkannya saja hati menjadi sesak! Dan
sewaktu beliau datang, ternyata suaminya sedang di pompa! Beliau bercerita
betapa menyesal dan sesak hatinya ketika ingat ini, ingin sekali menemani, tapi
tidak bisa. Hikmah yang gda dapatkan adalah sebisa mungkin temani orang yang
kita cintai ketika sakit dan membutuhkan kita.
Sang kakek adalah orang yang begitu rajin silaturahmi,
kata-katanya selalu menghibur orang yang didekatnya, sangat menyayangi anak dan
cucunya, selalu bersyukur dan tersenyum padahal ada saat-saat beliau sulit
secara ekonomi, sehingga para keluarga dan kerabat begitu merasa kehilangan dan
mereka berlomba bercerita betapa baiknya sang kakek. Wajahnya bersiiih sekali
ketika meninggal, seperti tersenyum. Semoga Husnul Khatimah, Allah menempatkan
kakek di tempat terindah disisi Nya, amal ibadah kakek diterima oleh Allah J
Ini menjadi renungan buat gda pribadi, jadi membayangkan
bagaimana ketika gda meninggal nanti. Kesan apa yaaa yang akan diingat oleh
keluarga dan kerabat. Apa mereka akan merasa kehilangan? Apa bekal amal cukup?
Semoga bisa husnul khotimah. Aamiin.
Senin, 26 Januari 2015
Melahirkan si Kembar Ziran dan Zirin
Assalamualaikum teman teman..
Sebetulnya sudah dari dulu sekali, gda bilang mau cerita tentang lahiran Ziran Zirin, tapi belum belum aja. karena eh karena, karena apa ya? karena baru sempat dan baru mood aja. hehe maaf yaaa..
Jadi begini ceritanya, siap siap yaaa..
Pada suatu hari, gda merasa mual-mual banget! (padahal kondisi waktu itu aktivitas sedang cukup padat dan juga pakai KB IUD yang nova T yang 5 tahun). karena mual mual banget itu lah akhirnya gda memutuskan untuk makan makanan super pedas, kripik kripik pedas sampe habis sebungkus, level 10 pula, karena waktu itu sedang di perjalanan dari bandung menuju jakarta untuk shooting Hitam Putih trans 7. pokoknya rasa mual nya gak seperti biasanya! lalu shooting pun di mulai dan baru selesai tengah malam, eh malah rasanya semakin mual dan kunang-kunang! karena penasaran, akhirnya gda beli test pack, dan jam 2 malam gda coba test, ternyataaa.. hasilnyaaa... POSITIVE !
Rasanya percaya gak percaya. Jujur saja, waktu itu gda baru saja bilang kalau mau punya adiknya nifaa itu nanti pas nifaa usia 5 tahun, mau sekolah dulu, mau kejar karir dan usaha dulu, pokoknya segala ambisi duniawi gda targetkan, dan ternyata, Allah berkehendak lain, yaitu HAMIL ! tiba-tiba, clak clak clak air mata ini menetes. huhuhuuuuu.. teringat akan hamil Nifaa dulu yang lumayan repot karena muntah-muntah terus sampai 9 bulan, berpayah-payah di awal kehamilan hingga harus bedrest, dan pas melahirkan nifaa tuh rasanya sakiiiiiiit banget banget ( sampai pas pembukaan 10 pun muntah alhasil lahirannya sambil lemas, mungkin karena anak pertama kali yaa, jadi belum berpengalaman ). Gimana dong ini kerjaan, target, dan sebagainya? (di dalam fikiran gda) langsung saja gda membayangkan yang sebetulnya BELUM-TENTU-TERJADI, beranggapan kalau hamil kali ini akan sama prosesnya, berikut lahirannya. Dan ternyata : BEDA hampir 180 derajat! mau tau bedanya bagaimana? ikuti terus cerita ini ya! (Apa siiih)
Sewaktu itu karena gda belum mau woro-woro, khawatir hasil test pack nya kurang akurat, jadi supaya memantapkan hati, gda cek ke dokter kandungan terdekat di jakarta (bukan dr kandungan langganan) dan ternyata benar adanya kalau gda hamil. Dokter bilang, kalau gda hamil dengan IUD di dalamnya, berarti kehamilan ini lebih beresiko dan harus bedrest total. huaaaaa gimana atuh kerjaan gda, ini itu, pokoknya banyak hal yang berkecamuk di fikiran gda. clak clak clak nangis lagi deh. Sampai dokternya tanya, apa ini IUD nya mau di cabut atau tidak, tapi kalo di cabut ada resiko keguguran karena ini posisinya agak kelipat apa gimana gitu. Aduh masa di gugurin sih :( rasanya memang campur aduk, kehamilan yang di luar rencana, ada IUD yang gak bisa di cabut di dalamnya, kerjaan lagi banyak, dan baru ketahuan kalau gda ada kista juga, gda belum siap hamil lagiiii (padahal kan katanya kalau orang mau hamil, harus relaks, ga banyak beban, dan lain sebagainya, dan ternyata Allah memberikan amanah disaat gda sedang under pressure, merintis usaha, dan kegiatan yang cukup padat). Kenapa IUD nya kok bisa jebol? Padahal kemungkinan gagal kan 1% tapi kok bisaa gda masuk ke 1% itu? Hikmahnya apa sih iniii?
Hari demi hari gda lalui (ciyeh) dan gda gak melakukan bedrest seperti saran dokter, gda tetap melakukan kegiatan dengan jadwal yang cukup padat. Hingga pada suatu hari, gda bangun tidur dan terkaget-kaget melihat darah yang cukup banyak di kasur! Astaghfirullah, darah apa ini? Gda langsung pegang perut khawatir keguguran. Rasanya campur aduk, antara sedih, merasa bersalah, merasa berdosa karena gak bedrest dan menjaga, tapi juga kehamilan yang di luar rencana, ah pokoknya campur aduklah! Nangis sampai sejadi-jadinya, cari dokter tidak ada yang buka di pagi hari karena libur lebaran. Akhirnya ketok-ketok pintu tetangga yang berprofesi sebagai bidan, yaitu bidan Indarwati. Alhamdulillah nya anak beliau mba Jatu yang mana adalah dokter, sedang ada di rumah dan punya alat USG. Deg deg an banget, takut keguguran! Huaaaa.. dan pas di periksa, “Alhamdulillah teh, janinnya sehat gak apa apa. Teteh jangan terlalu capek yaa, harus bedrest beneran” Alhamdulillaaaah, bisa bernafas lega (padahal mata udah bengkak). “eeeh bentar-bentar teh, kok ini jantungnya ada dua yang berdenyut” kata dr Jatu. “maksudnya?” (kaget!) “iyaaa tehh, ini mah kembar! Ada 2 bayiiii, selamat ya teh” Ya Allah! Ya Allah! Yang tadinya nangis-nangiiiiis tiba-tiba di bikin senyum bahagiaaaaa banget dalam hitungan menit. Allah memang maha pembolak balik hati. Yang paling mau di lakukan cuma taubat dan syukur. Ya Allah.. maafiiin gda ga bersyukur dititipi amanah ini, gda malah mikirin hal yang bersifat “duniawi” aja. eh tapi kalau di ingat-ingat, beberapa hari sebelumnya nifaa suka gendong-gendong boneka bayi, dan bayinya ada dua. Aneh tapi nyata, mungkin nifaa udah merasakan kehadiran mereka.
Hari demi hari gda lalui (ciyeh, kata-kata yang sama >.<) rasanya gak percayaaa. KB gagal? Kembar? Hamil disaat lagi padat kegiatan yang mana sebetulnya fikiran dan badan lagi gak relaks. ( padahal waktu mau hamil nifaa dulu sampai nunggu 1.5 tahun lhoo! Dan itu di kasih pada saat sudah pasraaah banget) Ya Allah. Hikmah apa ini? Setelah gda sadari, ini adalah teguran yang indah dari Allah, Allah mengingatkan gda untuk lebih meluruskan niat lagi, sebetulnya amanah gda yang utama apa, tujuan gda hidup apa, gda merintis usaha, aktualisasi diri untuk apa dan siapa, dan banyakkk pokoknya. Sewaktu bedrest itu seperti dikasih waktu sama Allah untuk banyak bertafakkur, introspeksi diri juga. Alhamdulillah dan ternyata, jauhhh dari pas hamil nifaa. Makan tetap lahap, di kasih kesempatan bisa naik turun pesawat (di dalam maupun luar negri), yang artinya bisa jalan-jalan, babymoon, dan kerjaan juga bisa di kerjakan. Tuh kan! Kita tuh suka takut dan mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi deh! (kita? Gda kaliiii >.< )
Bedanya hamil ziran zirin dengan hamil Nifaa adalah gak tahu kenapa jadi rajin dandan heuheuhuehuehuehueheuheuehue (kok heuheu nya banyak) sebetulnya beda nya sangat terasa di usia kehamilan 6 bulan keatas. Perut hamil 6 bulan sudah seperti hamil 9 bulan! Gede! hihi. Kehamilan 7 bulan sudah mulai kontraksi palsu. Kan katanya kalau kehamilan kembar banyak yang lahirannya prematur karena memang sudah sempit sekali, jadi mungkin bayinya udah gak kuat. Dan memang rasanya sakiiitt sewaktu mereka bergerak (tapi lucunya, kalau dulu kan perut ada yang nendang-nendang atau gerak hanya ada 1 tonjolan, kalau ini 2 bahkan lebih dengan arah berbeda hihihi). Masuk usia 8 bulan, gda sudah mulai susah sekali untuk sujud, karena perut saking besarnya. Selalu memakai gendongan perut kemana-mana, dan tidur pun sambil duduk karena kalau tiduran perutnya seperti mau tumpah! Hehe. ini asli ya bukan lebay. Belum lagi Nifaa sudah mulai cemburu karena mungkin sudah mulai merasakan kehadiran adiknya, jadi sering minta di gendong. Jadi rasanya memang harus benar-benar mengolah emosi. Usia kehamilan 34 minggu, rasanya sudah hampir tak sanggup lagi. Perut beraaat sekali, sampai ke toilet saja harus di bopong atau di tuyun. Tidur sudah susah nyenyak karena sambil duduk dan perut yang besar itu, nafas juga sudah susah, dan sering sekali kontraksi palsu.
Hingga pada suatu hari, cek ke dokter kandungan (dokter Anna Fachruriah di Hermina Pasteur Bandung), ternyata posisi bayi yang satu sudah bagus (ke bawah) yang satu melintang. Gimana atuh ini? Pengen lahiran normal, tapi gak bisa karena posisi salah satu bayi melintang. Tapi ini masih 34 minggu, belum waktunya lahiran. 2 minggu lagi lah. Tapi hamba sudah tak kuattttttt.. hahay! Akhirnya gda daftar jadwal untuk oprasi sesar di hari sabtu. Gda berusaha mengolah fikiran dan emosi supaya tetap positif, sambil janin nya di ajak ngobrol, kalau mereka anak soleh baik, bantuin bundanya kalau lahiran gak akan sakit, ya pokoknya semacam hypnobirthing sendiri gitu. Sambil berusaha sujud (kan katanya kalau sujud, posisi bayi bisa berubah jadi bagus). Katanya supaya lahiran lancar, harus banyak ibadah, sedekah, minta maaf, dan lain sebagainya. Memang proses melahirkan itu seperti perjuangan hidup dan mati, dan hanya Allah sumber kekuatan yang dapat menolong kita. Akhirnya pada hari jumat, gda kontrol ke obgyn untuk tahu perkembangan bayi dan posisinya. Dan ternyata, maha suci Allah, posisi mereka jadi bagus! Seneng dong sekaligus galau, atuh kalau posisinya bagus begini tidak ada alasan medis untuk melahirkan dengan operasi sesar dong? Gimana kalau beberapa hari kedepan posisi bayi berubah lagi jadi melintang? Trus nanti takut yang satu normal yang satu sesar, jadi capek sebelum dan sesudah dong? Tapi gimana, jujur saja agak takut, mana harus mengeluarkan dua bayi pula kalau normal! Nah loh! Sudah gitu, keluarga hampir semua menyarankan gda untuk lahiran sesar saja, karena khawatir gda kecapean seperti waktu lahiran nifaa dulu ( gda mengerti mereka menyarankan begitu karena rasa sayang sama gda khawatir kecapean atau bagaimanalah gitu). Galau galau deh!
Pulang ke rumah, kok aneh? Ini perut jadi ringan! Jalan jadi mudah padahal tadinya harus selalu di tuyun. Sampai gda tanya ke dokter, “dok, mungkin gak sih ini bayi turun berat badannya? Kok jadi hampang ya dok?” kata dokter sih gak mungkin juga, karena kan sudah mau lahiran gini mah biasanya stabil. Ma sha Allah, ini memang kuasa Allah banget. Mungkin karena posisi bayi sudah bagus jadi terasa lebih ringan. Ah tapi tak tahu lah, ini memang kuasa Allah yang maha baik. Gda jadi teringat kembali, kalau lahiran ini pasti sudah ada garis takdirnya, ada Allah yang maha menolong, kenapa kita harus pusing sendiri? Seolah bisa mengatur takdir sendiri? Akhirnya setelah shalat istikhoroh beberapa kali, gda memantapkan diri untuk lahiran normal, dan membatalkan lahiran sesar yang harusnya hari sabtu. Entah rasanya seperti apa, tapi disaat keyakinan itu datang, rasanya sangat nikmat, hari-hari terasa lebih indah. Tiap hari gda selalu ajak ziran dan zirin ngobrol, kalau mereka anak hebat, anak soleh yang siap membantu bundanya melahirkan mereka ke dunia, kalau bunda kangen sekali ingin melihat mereka, dan bunda sayang mereka.
Tibalah hari senin, rencananya memang mau cek posisi saja, apakah masih bagus dan siap untuk lahiran normal. Belum ada tanda-tanda seperti flek atau kontraksi yang melinukan itu. Ya adem ayem lah. Pas diperiksa, Alhamdulillah posisi bagus, berat badan bayi cukup, dan masuk usia 36 minggu yang mana artinya udah 9 bulan ( Alhamdulillah gak prematur, walaupun untuk ukuran normal masih kurang 2 minggu). Eh ternyataaa, pas dateng ke dokter itu udah pembukaan 1. Jadilah gda diminta standby di RS karena khawatir proses pembukaannya cepat. HAH! Lahiran hari iniii? Ih dag dig dug duer daiyaaaa! Tapi kok gak kerasa sakit-sakit pembukaan siih? Eh tapi Alhamdulillah. Jam demi jam di lalui, bisa buka gadget, baca-baca buku, makan, ngobrol, mengaji, dll deh. Dan pas waktu itu, bapak sedang umroh ke tanah suci, gda menitip doa “ bapak, doain yaa gda mau melahirkan. Doakan supaya GAK SAKIT” hehehe Aamiin. Trus beberapa jam kemudian, dokter bilang bahwa ini ada pembukaan tapi lama, dan gda gak merasakan mules yang berarti (dulu pas lahiran nifaa pembukaan 4 itu udah gak karuan rasanya, udah gak bisa pegang gadget, hehe) tapi pas ziran zirin ini gda malah adem ayem aja. Mules tegang sih, tapi masih bisa tertahan. Akhirnya dokter bertanya, “ ini kita pake induksi aja ya? Soalnya kalau gak mules gimana lahirannya?” apa! Induksi? Katanya mulesnya jadi sakit banget ya? Aduduh gimana dong, atuuutt! Tapi, ya sudah lah tak apa. “Boleh dok” selang beberapa jam, gda tiba-tiba dibangunkan oleh dokter dan pas di periksa sudah pembukaan 5. “loh kok kumaha iyeu teh (gimana ini teh) yang mau lahiran malah tidur? Di induksi malah tidur? Hehehe” eh iya! Kok gda gak sadar ya, tiba-tiba ketiduran lagi di induksi. Hehee, aneh sendiri gak kerasa mules yang gimana gitu. Lalu pembukaan berjalan dan baru deh kerasa mules kejer pas pembukaan 7. Pas pembukaan 10, seperti biasa tak lupa gda mengingatkan kepada Ayah Apin untuk mendokumentasikan momen ini, hihihihi. Entah kenapa yang keingetan malah itu.
“yaaaa ibuuu, siaaapp udah pembukaan 10, boleh ngeden ya bu!”
Bismillah!
Trus kan mengejan ya, gda malah lupa proses ngeden itu tidak boleh bersuara. Gda malah bersuara dan bilang “bentar, nafasnya habis” padahal kan bukan begitu, jadinya pembuluh darah gda ada yang pecah dan wajah berbintik-bintik merah deh. Beruntung gda ditemani oleh Bude Elly yang mana adalah bidan (bude Elly ini sodara dari Kang apin), bude Elly bilang kalo mengejannya ke bawah seperti mau “Sesuatu” bukan bersuara. Mengejan yang ke 8 kali, akhirnya ziran keluar sedikit eh masuk lagi! Hayah bagaimana ini. Semangat semangat! Akhirnya ziran keluar kepalanya sedikit, lalu di bantu oleh alat vacum dari luarnya. ( kalau dulu nifaa di bantu para suster dengan perut gda di dorong dari atas, tapi karena ini ada zirin jadi gak bisa dong nanti takut kepencet zirinnya hehe). keluarlah Ziran, Alhamdulillah rasanya terharu sekali. Udah mau nangis-nangis tiba-tiba,
“ bu bu ibu, ini satu lagi anak nya masih di dalem!” oh iyaaaa! Hihihihihi.
Akhirnya nunggu mules lagi, karena di induksi jadi cepet mules lagi. Alhamdulillah pas melahirkan zirin rasanya lebih mudah, karena mungkin sudah di bukakan “jalan” oleh Ziran.
Ya Allah, terimakasih Engkau memberi jalan dan kesempatan gda untuk melahirkan anak kembar secara normal. Ini berkat doa dari orangtua, sahabat, dan teman-teman semua. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Dua bayiiiii iniii sama banget wajahnya, hihi. Gak nyangka juga Ziran lahir 2.8kg, Zirin 2.6 kg. Yang mana gda selama hamil naik 13kg, didalemnya ada 6 kg (plus air ketuban). Alhamdulillah Ziran Zirin gak harus di inkubator karena beratnya kekecilan. Sewaktu baru lahir, Bilirubinnya tinggi sehingga harus di inapkan beberapa hari di RS. Sedih, tapi karena sudah berpengalaman pas nifaa dulu, jadi sedihnya tidak sampai sediiiih banget gitu. Hehe! ya dulu mah namanya juga ibu baru.
Alhamdulillah, panjang ya! Maaf yaaa.. in sha Allah kalau ada kesempatan lagi, mau cerita tentang proses menyusui ziran dan zirin. Alhamdulillah sekarang 1 bulan lagi mau 2 tahun, masih minum ASI dan lagi proses menyapih secara bertahap. Doakan yaaa ^^
Senin, 15 Desember 2014
(SYUKUR)
SYUKUR : menurut gda ini adalah kata kata yang sangat powerfull dalam kehidupan kita.
Syukur bisa dari hati, dari ucapan, dan dari perbuatan. Untuk Muslim dan Muslimah seperti kita, biasanya mengucap syukur dengan kata "Alhamdulillah" (segala puji bagi Allah).
Seperti firman Allah :
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)
Enak sekali ini, sudah mah kita di perintahkan untuk bersyukur, yang mana nikmat dari Allah kalau kita hitung hitung, tidak akan terhitung! Eh ternyata jika kita bersyukur, akan ditambah nikmatnya. Nah tapi tentu bersyukur ini tidaklah semudah mengucapkan, nah menurut pengalaman pribados eh pribadi, ada beberapa "penyakit" yang membuat kita sulit bersyukur, diantaranya :
1. Malas berlatih. Ya memang ternyata untuk ukuran kita kita yang ibadahnya masih belum istiqomah (kita? Gda kaliiii ) alias masih belang betong, untuk bersyukur dalam kondisi apapun dengan sepenuh hati itu terkadang suliiiit, ya sulit. Ya memang harus dilatih, sebisa mungkin mencari beribu alasan meskipun itu hal yang sederhana, untuk bersyukur. Walaupun hati sedang galau tapi cari beribu alasan untuk tetap berfikir positif.
2. Selalu membanding - bandingkan harta / karunia yang orang lain dapatkan dengan yang kita miliki. Apalagi dengan dunia teknologi sekarang, social media membuat kita mudah sekali untuk kepo kepo lalu menjadi tahu dan mengulik informasi tentang seseorang, baik itu artis maupun yang bukan, jadi kita mudah sekali untuk "kepingin" seperti si fulan, "kepingin" barangnya si fulan, dan sebagainya. Adanya teknologi ini bisa menjadi ujian buat kita, sekaligus bisa menjadi jalan taat kepada Allah, kalau kita bisa menggunakannya dengan bijak. Ada pepatah yang mengatakan, kalau melihat rumput tetangga lebih hijau, nah alangkah baiknya kita melihat rumput kita pun sama hijau dengan mensyukuri apa yang kita punya.
3. Banyaknya keinginan dan ambisi akan sesuatu. Ternyata setelah gda alami, mempunyai banyak ambisi / keinginan yang tidak didasari akan rasa syukur kepada Allah atas potensi yang dititipkan kepada kita bisa menjadi salah satu pemicu untuk susahnya bersyukur. Kita menjadi susah tawakkal, seolah semua itu adalah atas kemampuan kita. Padahal sebetulnya, apa yang kita capai saat ini tidak akan tercapai bila bukan karena kehendak dan "bantuan" dari Allah. Kalau bahasa sundanya mah "da aku mah apa atuh" cuma seonggok daging yang kalau tidak diberi tulang, akan letoy letoy (maaf maaf sodara sodara, jadi campur sari begini bahasanya, kan ceritanya sedang belajar menulis menggunakan EYD yang benar, walaupun belum benar juga sih, hehe, eh ups! Jadi buka kartu deh) iya jadi akan letoy letoy, lalu yang memberi tulang siapa? Allah kan? Tuh ya gda juga tidak bisa membuat tulang (kecuali sop tulang ayam, eh)
4. Kurang "rela" akan takdir yang terjadi. Istilahnya mah kurang legowo gitu. Jadi masih ada yang "mangkel" di hati, sehingga semestinya hati kita penuh dengan dzikir dan syukur, ini terhalangi oleh rasa tidak rela
5. Kebiasaan mengeluh. Nah ini dia, bahkan secara sadar maupun tidak sadar. Bisa jadi dengan hembusan nafas (eh apa ya namanya, menghela nafas gitu ya), itu yang paling ringan, yang parahnya lagi mengeluh kepada orang lain hingga marah marah dan mengeluarkan kata kata yang tidak semestinya (malah jadi dosa ya kan).
Sebetulnya masih banyak penyakit lainnya, intinya yang berhubungan dengan HATI. Jadi.. JAGALAH HATI (eaaaaa)
Ma Sha Allah.. Kalau kita bersyukur, maka akan di tambah nikmatNya? Terkadang kita berfikir, nikmat itu hanya sekedar materi (uang, harta, nominal, bendabenda) dan sebagainya. Padahal selain itu, ada yang terasa lebih dalam dari sekedar materi, terasa lebih menenangkan hati, bahkan mendapatkan pahala jika ikhlas. Yaitu Nikmat iman, nikmat saat beribadah dan nikmat saat bisa memberi dan orang yang di beri senang sekali. Dan untuk mendapatkan nikmat tersebut tidaklah mudah, memang hanya Allah yang bisa memberi nikmat itu, maka kita harus rajin "meminta". Kita meminta supaya Allah menjadikan kita orang yang selalu bersyukur, meminta untuk diberi kenikmatan dalam beribadah (bayangkan jika kita merasakan ini, kita menjadi "ketagihan" untuk beribadah karena terasa nikmat, lalu kita jadi lebih giat, dan bekal amal kita menjadi banyak) Aamiin Ya Rabb. Yuk kita doa sama sama ^^ Lalu nikmat saat memberi, memberi itu tidak hanya dengan harta benda, tapi dengan anggota tubuh kita (bisa ucapan, senyuman, tenaga maupun fikiran) eh fikiran? Maksudnya adalah bentuk perhatian kita. Ada pepatah mengatakan, "if you want to be happy, make other people happy" yap! That's true. Tentunya sebagai seorang Muslim/ah akan lebih bermakna dan "memburu" pahala dari Allah apabila ketika kita membuat orang lain senang semata mata karena Allah. Karena kalau niatnya karena makhluk, kita terkadang mengharapkan imbalan, walaupun hanya kata terima kasih misalnya, dan kalau tidak malah membuat kita kecewa (nah nah menjadi tidak happy kan?)
Ini sebetulnya gda sengaja nulis begini di blog, karena untuk apa? Untuk mengingatkan diri gda pribadi. (Jadi pas lagi di uji susah bersyukur, langsung deh buka blog) Alhamdulillah kalau bisa bermanfaat buat teman teman yang membacanya. Baiklah, selamat berlomba lomba untuk mensyukuri karunia yang Allah beri kepada kita, sekecil apapun itu, di setiap kesempatan yang ada. Bangun tidur yang di ingat syukur (bukan pak syukur ya! Tapi akan Syukur, eh? :p ), setiap dalam bacaan shalat yaitu alfatihah, sambil mengingat ingat hal yang bisa di syukuri, jangan lupa sebelum tidur juga mengingat - ingat nikmat hari ini (ini bisa membuat tidur kita lebih nyenyak lho! Dibanding kita memikirkan "masalah" sebelum tidur, terkadang kita menjadi susah tidur dan gelisah)
Baiklah (eh perasaan sudah tulis baiklah deh) kalau begitu, oke lag, kita zudahi zaja tulizan ini (tuh katanya EYD, masih plin plan ini >.< ) hihi. Maaf maaf yaaa.. Sekian, semoga bermanfaat! Much love, Ghaida Tsurayya!
Syukur bisa dari hati, dari ucapan, dan dari perbuatan. Untuk Muslim dan Muslimah seperti kita, biasanya mengucap syukur dengan kata "Alhamdulillah" (segala puji bagi Allah).
Seperti firman Allah :
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. 14:7)
Enak sekali ini, sudah mah kita di perintahkan untuk bersyukur, yang mana nikmat dari Allah kalau kita hitung hitung, tidak akan terhitung! Eh ternyata jika kita bersyukur, akan ditambah nikmatnya. Nah tapi tentu bersyukur ini tidaklah semudah mengucapkan, nah menurut pengalaman pribados eh pribadi, ada beberapa "penyakit" yang membuat kita sulit bersyukur, diantaranya :
1. Malas berlatih. Ya memang ternyata untuk ukuran kita kita yang ibadahnya masih belum istiqomah (kita? Gda kaliiii ) alias masih belang betong, untuk bersyukur dalam kondisi apapun dengan sepenuh hati itu terkadang suliiiit, ya sulit. Ya memang harus dilatih, sebisa mungkin mencari beribu alasan meskipun itu hal yang sederhana, untuk bersyukur. Walaupun hati sedang galau tapi cari beribu alasan untuk tetap berfikir positif.
2. Selalu membanding - bandingkan harta / karunia yang orang lain dapatkan dengan yang kita miliki. Apalagi dengan dunia teknologi sekarang, social media membuat kita mudah sekali untuk kepo kepo lalu menjadi tahu dan mengulik informasi tentang seseorang, baik itu artis maupun yang bukan, jadi kita mudah sekali untuk "kepingin" seperti si fulan, "kepingin" barangnya si fulan, dan sebagainya. Adanya teknologi ini bisa menjadi ujian buat kita, sekaligus bisa menjadi jalan taat kepada Allah, kalau kita bisa menggunakannya dengan bijak. Ada pepatah yang mengatakan, kalau melihat rumput tetangga lebih hijau, nah alangkah baiknya kita melihat rumput kita pun sama hijau dengan mensyukuri apa yang kita punya.
3. Banyaknya keinginan dan ambisi akan sesuatu. Ternyata setelah gda alami, mempunyai banyak ambisi / keinginan yang tidak didasari akan rasa syukur kepada Allah atas potensi yang dititipkan kepada kita bisa menjadi salah satu pemicu untuk susahnya bersyukur. Kita menjadi susah tawakkal, seolah semua itu adalah atas kemampuan kita. Padahal sebetulnya, apa yang kita capai saat ini tidak akan tercapai bila bukan karena kehendak dan "bantuan" dari Allah. Kalau bahasa sundanya mah "da aku mah apa atuh" cuma seonggok daging yang kalau tidak diberi tulang, akan letoy letoy (maaf maaf sodara sodara, jadi campur sari begini bahasanya, kan ceritanya sedang belajar menulis menggunakan EYD yang benar, walaupun belum benar juga sih, hehe, eh ups! Jadi buka kartu deh) iya jadi akan letoy letoy, lalu yang memberi tulang siapa? Allah kan? Tuh ya gda juga tidak bisa membuat tulang (kecuali sop tulang ayam, eh)
4. Kurang "rela" akan takdir yang terjadi. Istilahnya mah kurang legowo gitu. Jadi masih ada yang "mangkel" di hati, sehingga semestinya hati kita penuh dengan dzikir dan syukur, ini terhalangi oleh rasa tidak rela
5. Kebiasaan mengeluh. Nah ini dia, bahkan secara sadar maupun tidak sadar. Bisa jadi dengan hembusan nafas (eh apa ya namanya, menghela nafas gitu ya), itu yang paling ringan, yang parahnya lagi mengeluh kepada orang lain hingga marah marah dan mengeluarkan kata kata yang tidak semestinya (malah jadi dosa ya kan).
Sebetulnya masih banyak penyakit lainnya, intinya yang berhubungan dengan HATI. Jadi.. JAGALAH HATI (eaaaaa)
Ma Sha Allah.. Kalau kita bersyukur, maka akan di tambah nikmatNya? Terkadang kita berfikir, nikmat itu hanya sekedar materi (uang, harta, nominal, bendabenda) dan sebagainya. Padahal selain itu, ada yang terasa lebih dalam dari sekedar materi, terasa lebih menenangkan hati, bahkan mendapatkan pahala jika ikhlas. Yaitu Nikmat iman, nikmat saat beribadah dan nikmat saat bisa memberi dan orang yang di beri senang sekali. Dan untuk mendapatkan nikmat tersebut tidaklah mudah, memang hanya Allah yang bisa memberi nikmat itu, maka kita harus rajin "meminta". Kita meminta supaya Allah menjadikan kita orang yang selalu bersyukur, meminta untuk diberi kenikmatan dalam beribadah (bayangkan jika kita merasakan ini, kita menjadi "ketagihan" untuk beribadah karena terasa nikmat, lalu kita jadi lebih giat, dan bekal amal kita menjadi banyak) Aamiin Ya Rabb. Yuk kita doa sama sama ^^ Lalu nikmat saat memberi, memberi itu tidak hanya dengan harta benda, tapi dengan anggota tubuh kita (bisa ucapan, senyuman, tenaga maupun fikiran) eh fikiran? Maksudnya adalah bentuk perhatian kita. Ada pepatah mengatakan, "if you want to be happy, make other people happy" yap! That's true. Tentunya sebagai seorang Muslim/ah akan lebih bermakna dan "memburu" pahala dari Allah apabila ketika kita membuat orang lain senang semata mata karena Allah. Karena kalau niatnya karena makhluk, kita terkadang mengharapkan imbalan, walaupun hanya kata terima kasih misalnya, dan kalau tidak malah membuat kita kecewa (nah nah menjadi tidak happy kan?)
Ini sebetulnya gda sengaja nulis begini di blog, karena untuk apa? Untuk mengingatkan diri gda pribadi. (Jadi pas lagi di uji susah bersyukur, langsung deh buka blog) Alhamdulillah kalau bisa bermanfaat buat teman teman yang membacanya. Baiklah, selamat berlomba lomba untuk mensyukuri karunia yang Allah beri kepada kita, sekecil apapun itu, di setiap kesempatan yang ada. Bangun tidur yang di ingat syukur (bukan pak syukur ya! Tapi akan Syukur, eh? :p ), setiap dalam bacaan shalat yaitu alfatihah, sambil mengingat ingat hal yang bisa di syukuri, jangan lupa sebelum tidur juga mengingat - ingat nikmat hari ini (ini bisa membuat tidur kita lebih nyenyak lho! Dibanding kita memikirkan "masalah" sebelum tidur, terkadang kita menjadi susah tidur dan gelisah)
Baiklah (eh perasaan sudah tulis baiklah deh) kalau begitu, oke lag, kita zudahi zaja tulizan ini (tuh katanya EYD, masih plin plan ini >.< ) hihi. Maaf maaf yaaa.. Sekian, semoga bermanfaat! Much love, Ghaida Tsurayya!
Langganan:
Postingan (Atom)